MAKNA MAMPU DALAM IBADAH HAJI

Oleh:Ahmad Faroq Zain

Ibadah haji adalah rukun islam yang kelima.diwajibkan kepada hamba yang mampu(Istitha’ah).
Allah Subhannahu wa
Ta’ala berfirman:
“Mengerjakan haji adalah
kewajiban manusia
terhadap Allah yaitu (bagi)
orang yang mampu
mengadakan perjalanan
ke Baitullah.” (QS. Ali
‘Imran: 97)

Dalam kitabnya al-Wajiz fi
Fiqhis Sunnah wal Kitabil
‘Aziiz, asy-Syaikh ‘Abdul
‘Azhim Badawi berkata:
“Kemampuan (untuk
mengadakan perjalanan
ke Baitullah) terwujud
dengan beberapa syarat:
1.Kesehatan jasmani.
2.Memiliki bekal yang
cukup untuk pergi dan
kembali, serta
mencukupi segala
hajat/ kebutuhannya
dan kebutuhan orang-
orang yang menjadi
tanggungjawabnya
dalam hal nafkah.
3.Keamanan dalam
perjalanan (menuju
tanah suci).

Adapun disyari’atkannya
kesehatan jas-mani, hal ini
berdasarkan hadits
‘Abdullah Ibnu ‘Abbas
Radhiallaahu anhu :
ﺃَﻥَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻣِﻦْ ﺧَﺜْﻌَﻢَ ﻗَﺎﻟَﺖْ:
ﻳَﺎﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻥَّ ﺃَﺑِﻲ
ﺃَﺩْﺭَﻛَﺘْﻪُ ﻓَﺮِﻳْﻀَﺔُ ﺍﻟْﺤَﺞِّ
ﺷَﻴْﺨًﺎ ﻛَﺒِﻴْﺮًﺍ ﻻَ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻴْﻊُ ﺃَﻥْ
ﻳَﺴْﺘَﻮِﻯَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻠَﺔِ
ﺃَﻓَﺄَﺣُﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ؟ ﻗَﺎﻝَ:ﺣُﺠِّﻰ
ﻋَﻨْﻪُ
“Bahwasanya seorang
wanita dari Khats’am
berkata: ‘Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ayahku
telah diwajibkan untuk
melaksa-nakan ibadah haji
disaat dia telah tua renta,
dia tidak mampu untuk
tetap bertahan diatas
kendaraan, apakah aku
melaksanakan haji untuk
mewakilinya?’ Beliau
menjawab: ‘Lakukankah
haji untuk (mewakilinya!)
.'”

Syarat yang kedua
didasarkan pada hadits
Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam :
ﻛَﻔَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺀِ ﺇِﺛْﻤﺎً ﺃَﻥْ
ﻳُﻀَﻴِّﻊَ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮْﺕُ
“Cukuplah dosa bagi
seseorang (tatkala) dia
menyia-nyiakan orang-
orang yang menjadi
tanggungjawabnya.”

Adapun persyaratan ketiga,adanya jaminan (ke-
amanan dalam perjalanan)
, hal ini disebabkan karena
mewajibkan ibadah haji
yang tidak disertai dengan
jaminan keamanan
selama perjalanan
merupakan sesuatu yang
berbahaya (dharar),
padahal menurut
ketentuan syari’at bahwa
sesuatu yang berbahaya
harus dihindari.
Jika ketiga syarat diatas
telah terpenuhi, maka
telah wajib bagi seseorang
untuk melaksanakan
ibadah haji bagi laki-laki
maupun perempuan.

Akan tetapi bagi seorang
wanita, ada sebuah syarat
tambahan yang wajib di-
penuhinya, yaitu adanya
mahram yang me-
nemaninya selama
perjalanan ibadah haji dan
jika tidak memiliki
mahram, maka dia tidak
tergolong sebagai seorang
yang mampu
(mustathi’ah).

~ oleh faroq zain pada 25/10/2012.

Satu Tanggapan to “MAKNA MAMPU DALAM IBADAH HAJI”

  1. Reblogged this on Himpunan Usahawan Muda and commented:
    posted : Hilmi Husada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: