Jagalah Lisan Kita

Suatu ketika,baginda
Nabi saw.terlihat sedang menasehati dua
orang laki-laki yang
diketahuinya telah ber-
ghîbah tentang Salmân
al-Fârisî ra.Beliau
menyindir mereka dengan sebuah metafora.”Aku melihat warna merah bekas daging dimulut kalian!” sabda Nabi saw.
“Kami tidak memiliki
sesuatu, dan kami tidak
memakan sekerat
daging pun hari ini!”
jawab dua orang laki-laki tadi masih menyimpan rasa heran,tak memahami apa maksud sabda Nabi saw tersebut.Mengetahui hal itu,Nabi saw pun segera menjelaskannya,”Kalian berdua telah ber-ghîbah tentang saudara kalian!”
Senyap sejenak…
Kemudian beliau
bersabda lagi,”Apakah
kalian senang makan
daging bangkai?”
“Tidak!” jawab mereka
lekas.
Lalu Nabi saw.
melanjutkan sabdanya,
“Ketika kalian tak
senang memakan
daging bangkai, maka
janganlah ber-ghîbah.
Karena
sesungguhnya orang
yang ber-ghîbah
tentang saudaranya,
sama artinya ia telah
memakan daging
saudaranya itu!”
nasehat beliau terdengar tegas,meresap sampai kedalam jiwa, penuh
makna. Kemudian
turunlah firman Alloh
Swt.tentang larangan
ber-ghîbah (QS. Al-
Hujurât: 12).

Pernahkah terpikir
sebelumnya? Ketika kita berbicara,sebenarnya
suara dari sejumlah
kalimat yang kita
ucapkan,untuk satu
kata saja,berarti ada
beberapa huruf yang
telah dilafalkan,dan
untuk setiap huruf yang
dilafalkan berarti ada
sekian energi yang telah
digunakan.Disadari atau
tidak,saat itu fungsi
kerja dari ratusan urat
syaraf yang ada
menjadi aktif.Demikian
pula halnya dengan
fungsi kerja pita suara,
pernapasan,dan
sejumlah jaringan otot
lainnya.

Bayangkan! Hanya
untuk sekedar
mengeluh,mengucapkan kata “aduh” misalnya,kita telah menghabiskan energi gerak sejumlah otot yang ada,utamanya yang terletak menempel pada bagian
dinding tenggorokan, dari total enam ratusan
otot tubuh manusia.Didukung juga oleh peran wajah,bibir,hidung,dan lidah.Bila kemudian kata yang diucapkan bernilai
positif,maka betapa besar pahala yang
diperoleh.Namun sebaliknya,bila kata
yang nantinya diucapkan bernilai negatif,maka betapa besar kerugian yang diakibatkannya!

Sesaat coba kita renungkan kembali,untuk satu kata yang
terucap,berapakah
energi yang sudah
digunakan tanpa tujuan?
Dan untuk setiap energi
yang habis digunakan,berapakah protein yang
saat itu sudah terpakai,juga kalsium yang sudah
terbuang dari dalam sel-
sel tubuh secara
percuma?
Belum lagi kalkulasi kerugian ion-ion listrik (sodium dan potasium) dari setiap gerak otot yang bekerja.
Lâ Hawla Wa Lâ
Quwwata Illâ Billâh!

Islam telah mengajarkan ummatnya cara memaknai hidup yang
baik,dan menjadikannya
berharga.Taat mengikuti perintah Alloh
Swt.dan ikhlas berada
dalam bimbingan
Rasululloh saw.atau disebut pula dengan
ittibâ’.Diantara bentuk
ittibâ’ ini adalah dengan
mengamalkan adab
berbicara dan
mendengarkan secara
efisien,tanpa mubazir.
Setiap ucapan yang
positif,oleh baginda
Rasul saw.telah
diberikan penghargaan
(apresiasi),pengayoman,dan perhatian penuh
kepadanya.Perhatikan
bagaimana saat Nabi
saw.memberi teladan
cara mendengar serta
memperhatikan ucapan
orang lain.Pandangan
baginda terasa meliputi
setiap yang bertanya
kepada beliau dari segala sisi,dan
menjaganya dari orang
yang mengkritik atau
berkata sinis.Pernah, ketika seorang Badui menghadap baginda Nabi saw.dan
berkata,”Ya Rasulalloh,
pakaian yang kelak
digunakan di surga,
apakah kami sendiri
yang menenunnya
dengan tangan?”
Mendengar pertanyaan
lugu ini, para sahabat
yang hadir pun tak kuat
menahan tawa. Namun
Nabi saw. bersabda,
“Apakah yang
menyebabkan kalian
tertawa? Apakah kalian
tertawa karena orang
yang tidak tahu
bertanya kepada orang
alim?” lalu beliau
mengalihkan
pandangannya kepada
Badui tadi,”Tidak pakai
ditenun,wahai Badui!
Tetapi pakaian surga
berasal dari buah-buah
surga yang terbelah.”
Lanjutnya kemudian.
Sungguh bijaksana!

Berbeda halnya bila yang diucapkan itu bernilai negatif, atau tak bermanfaat untuk
didengar.Maka
Rasululloh akan segera
menegur, memberi
nasehat, dan menjelaskan tentang
efesiensi berbicara
serta fadlîlah
(keutamaan) diam
sebagai alternatif
mutlak sesudahnya.
Betapa besar kasih
sayang Nabi saw.,beliau sangat memperhatikan
sekecil apapun aktifitas
ummatnya.Suatu ketika Nabi saw.menegur salah seorang istrinya karena telah menyebut kekurangan istri beliau yang lain,”Kamu telah
mengucapkan
perkataan yang
andaikan dicampur
dengan air laut, niscaya
perkataan itu akan
merubahnya!”
Tidak hanya itu,baginda
Nabi saw. bahkan telah
melarang setiap ucapan
yang bernilai negatif,seperti apapun
bentuknya. Nabi saw.
melarang ummatnya
bersumpah serapah,mencela,menghina,melaknat –kecuali yang telah diperintah Al-Qur’an untuk
melaknatnya,memfitnah,apalagi berdusta.Mengenai perkataan dusta,Nabi saw.bahkan telah mengkategorikannya sebagai tanda kemunafikan.Pelakunya
tidak hanya merugikan
dirinya sendiri namun pula telah merugikan orang lain.

~ oleh faroq zain pada 03/11/2012.

13 Tanggapan to “Jagalah Lisan Kita”

  1. petuah yg bermanfaat, trims🙂

  2. terima kasih gan… post yg bermamfaat…

  3. bagus petuahnya. .
    Walaupun saya seorang chinese,kisah ini patut dijadikan panutan. .

  4. moga kita bisa terus ingat Allah ya, jadi bisa lebih hati2 dengan lisan.
    Nice artikel

  5. gerak pertama yang boleh mendapatkan pahala mudah..nasihat anda…dan seterusnya🙂 SENYUM..

    terima kasih atas perkongsian ini..semoga sama2 mendapat manfaatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: