Menyorong Rembulan

Oleh:Emha Ainun Nadjib

”Lir-ilir tandure wus sumilir,tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar.Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi,lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro.Dodot-iro dodot-iro kumitir bedah ing pinggir,dondomono
jlumatono kanggo sebo
mengko sore.Mumpung
padhang rembulane,mumpung jembar kalangane,yo surako,surak iyyoo!”

Gerhana rembulan hampir total.Malam gelap gulita.Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan.Cahaya matahari yang memancar ke rembulan
tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi.Sehingga rembulan
tidak bisa memantulkan
cahaya matahari ke
permukaan bumi.

Matahari adalah lambang Tuhan.Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan.Rembulan adalah para kekasih Allah,para rasul,para nabi,para ulama,para
cerdik cendekia,para
pujangga,dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya
di bumi.Karena bumi
menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.

Dan di dalam kegelapan
segala yang buruk terjadi.Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas.Orang menyangka
kepala adalah kaki.Orang menyangka utara adalah selatan.Orang bertabrakan satu sama lain.Orang tidak sengaja menjegal satu sama
lain,atau bahkan sengaja menjegal satu sama lain.Didalam kegelapan orang tidak
punya pedoman yang jelas untuk melangkah,bahkan kemana melangkah,dan
bagaimana melangkah.

Ilir-ilir,kita memang sudah nglilir,kita sudah bangun,sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari,namun akal pikiran
kita belum,hati nurani kita belum.Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut,namun
ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik.Kita
mencerca maling dengan penuh kedengkian,kenapa
bukan kita yang maling.Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya.Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan,yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat.Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur.Kita
menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan.Kita menghujat para penindas dengan riang
gembira sebagaimana Iblis,yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.

Siapakah selain setan,iblis dan dajjal,yang menolak husnul khotimah manusia,yang memblokade pintu sorga,yang menyorong
mereka mendekat ke pintu neraka?Sesudah ditindas,kita menyiapkan diri untuk
menindas.Sesudah
diperbudak,kita siaga untuk ganti memperbudak.Sesudah
dihancurkan,kita susun
barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan,melainkan asyiknya perpecahan.Yang kita
bangun bukan nikmatnya kemesraan,tapi menggelegaknya kecurigaan.Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan,melainkan
prasangka dan fitnah.Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka,melainkan rencana-rencana panjang untuk
menyelenggarakan perang saudara.Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.

Kita tidak memperluas
cakrawala dengan menabur cinta,melainkan
mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang- lubang kebencian dan iri hati.Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari,sehingga bumi kita sendiri tidak akan
mendapatkan cahayanya,atau kita berfungsi menjadi rembulan,kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat,agar kita bisa
dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

~ oleh faroq zain pada 17/11/2012.

2 Tanggapan to “Menyorong Rembulan”

  1. filosofis religius, pernah disampaikan di acara Kenduri Cinta di TIM
    izin kopas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: