Mengaku Cinta

“Sungguh aku adalah
seorang pecinta

Namun masih kuturutkan
syahwat pada hati dan
jiwa

Lalu racunpun dalam
lemak menjangkiti raga.”
(Hasan Muhammad
Syarad ‘Umar Bâ’Umar
dalam kasidah ‘Abîr al-
Wardah)

Siapakah orang mu’min
yang tak ingin mengaku
dirinya sebagai seorang
pecinta dalam maknanya yang hakiki,mengaku cinta kepada Alloh dan baginda Nabi.Siapakah
yang tak menginginkan
anugerah tersebut dalam hidup ini? Kalaulah ada yang tak
menginginkannya,tak
mengharapkan
mahabbatullôh dan
mahabbaturrosûl
melimpahi hidupnya,
maka konsekuensinya
keimanan orang itu sangat pantas dipertanyakan.

begitu mudahnya kita memproklamirkan diri
sebagai pecinta sejati.Begitu mudahnya
kita menuliskan puisi indah tentang cinta yang murni.Sementara kita memang wajib untuk menjadi orang-orang yang setia dengan cinta Ilahi.Tapi seberapakah nilai cinta yang telah kita miliki? Lihatlah keadaan diri kita,lihatlah keadaan lahiriah kita,dan lihat pula keadaan batiniah kita,apa yang sedang kita alami?Betapa memalukannya saat harus dihadapkan ke
hadirat Ilahi!Bukankah telah berulang kali kita
berikrar innî wajjahtu
wajhiya lilladzî fathoros
samâwâti wal ardlo
hanîfaw wamâ ana minal musyrikîn.Bahkan kita berjanji pula inna sholâtî wa nusukî wa mahyaya wa mamâtî lillâhi robbil ‘âlamîn,bahwa sholat dan ibadah kita,hidup dan mati kita hanya untuk Alloh Tuhan semesta.Lalu dalam sedekap khusyu’ nan khudu’ dengan wajah
tertunduk,kita mendeklarasi diri
sebagai seorang hamba
sejati,iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în.statemen
yang kita ucapkan lima kali sehari.Namun mengapa kita berulang kali ingkari?

mari mulailah dari
keikhlasan,ikhlas karena
Dzat yang disembah.Dengan ikhlas kita dapat merealisasikan makna
iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în yang telah diucapkan. Sedangkan realisasi iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în merupakan obat penyakit hati dan motivasi.Rangkaian kalimat ini terdiri dari dua bagian yang tak boleh terpisahkan. Bagian yang pertama adalah hak Tuhan,dan bagian yang kedua adalah hak hamba-Nya.Iyyâka na’budu
adalah milik Alloh
sedangkan iyyâka nasta’în adalah milik hamba-Nya.

Keikhlasan haruslah tumbuh dari biji tauhid.Tumbuh dari dua kalimat syahadat, Lâ Ilâha Illallôh Muhammad-ur
Rosûlullôh.Ikhlas karena
men-tauhidkan Alloh,dan ikhlas sesuai ajaran Rosululloh.Pahamilah,letakkan setiap maknanya
di dalam kalbu.Jadikanlah bersama perbuatan badan juga kalbu.Maka rasakan dengan pasti,ketika gumpalan-gumpalan kemunafikan menjadi luntur tinggalkan kalbu (semoga saja,amin!).

Ketika ucapan lisan dan
kalbu dihadirkan dengan
keikhlasan. Kemudian
perbuatan badan dan
kalbu juga dipersembahkan dengan keikhlasan.Maka kalimat iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în menjadi lebih bermakna.Iyyâka na’budu menyembuhkan penyakit riya’,sedangkan iyyâka nasta’în menyembuhkan penyakit takabaur dan congkak.Iyyâka na’budu adalah ibadah,dan iyyâka nasta’în adalah isti’ânah (permintaan tolong).

Ibadah didahulukan dari
isti’ânah karena ia
merupakan tujuan
seorang hamba,
sedangkan isti’ânah
hanyalah media yang
menyampaikannya ke
tujuan yang didamba (lihat Prinsip yang lahir dari ikrar iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în dapat mengantarkan kita kepada kesadaran (yaqodhoh).Kemudian kesadaran itu akan membuka mata batin
(bashîroh). Mata batin ini diperoleh dari limpahan cahaya Ilahi.Sedangkan
penglihatan mata batin
akan bekerja sebagai
penjernih diri dari setiap kekalutan,kebingungan yang terjadi.Ia berasal dari pancaran sinar iman yang diyakini,menembus tabir dimensi manusiawi (kasyf).Ia juga diperoleh dari proses tafakkur atau tadabbur akan keajaiban penciptaan alam semesta.Dari penglihatan mata
batin diatas,akan
menyusul kemudian
munculnya kemauan
(irôdah) sebagai hasil dari proses kontemplasi yang terjadi pada saat,atau sesudah bashîroh tersebut.Setelah itu
disusul pula munculnya
tekad yang kuat (‘azam)sebagai spirit bagi perjalanan ruhani kita selanjutnya.Hingga
tergeraklah jiwa raga ini
menuju jalan yang lurus,
shirôthol mustaqîm,dan inilah yang disebut dengan qoshd.

Diantara sela waktu berlangsungnya qoshd,biasanya akan hadir buah pikiran yang mengoreksi diri.Hal ini dikenal dengan istilah muhâsabah.Perannya cukup penting sebagai alat kontrol qoshd yang sedang berlangsung,agar tak salah arah hingga menjadi sebab terjadinya lemahnya semangat di tengah jalan.Karena itu senantiasalah kita berdoa ihdinash shirôthol mustaqîm,
shirothol ladzîna an’amta ‘alayhim, ghoiril
maghdlûbi ‘alayhim wa
ladl dlôllîn.

Sampai disini,jujur
rasanya semua itu masih jauh dari kondisi batin kita.Keadaan jiwa masih saja tak menentu,berada
diantara racun dalam
lemak yang menjangkiti
tubuh.Kita masih
menurutkan syahwat
pada hati dan jiwa.Meski demikian tetaplah berkata
bahwa,”Sungguh aku
adalah seorang pecinta.”
Katakanlah,karena kita
berharap ada setetes
kebeningan obsesi yang
perlahan mengaliri
kerontang jiwa untuk
bertaubat,kembali kepada Alloh Swt.Walau setetes saja!

~ oleh faroq zain pada 22/11/2012.

11 Tanggapan to “Mengaku Cinta”

  1. InsyaAllah…

  2. hangan mudah menggumbar cinta🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: